5 Alasan Frekuensi Publikasi Konten Blog Saya Sedikit

Menulis di blog itu banyak juga cobaannya. Yang masih pemula seperti saya saja, sebenarnya cukup menantang. Apalagi kalau mengelola blog menggunakan hp. Tentu saja akan sedikit lebih repot untuk dikerjakan jika dibandingkan dengan menggunakan laptop. Apalagi kalau sampai berbicara mengenai kecepatan dan kemampuan mengumpulkan referensi tulisan. Sangat terasa bedanya.

Alasan frekuensi update artikel blog tidak meningkat

Tak hanya alat saja, hambatan pun bisa datang dari arah mana saja. Baik yang berasal dari diri kita sendiri (internal) maupun yang selainnya. Belum lagi kalau sedang pusing dan kekurangan waktu dan biaya piknik. Pusingnya semakin menjadi-jadi.

Penyebab publikasi artikel di blog saya sedikit


Menurut pengalaman pribadi, beberapa hal yang mengurangi frekuensi publikasi artikel di blog diantaranya:

1. Materi atau bahan tulisan belum lengkap

Entah itu data berupa angka-angka (kuantitatif) maupun sekedar memikirkan kalimat pembuka maupun penutup suatu tulisan dan berbagai teknik penulisan lainnya. Saya sendiri terkadang mengumpulkan bahan artikel dalam bentuk daftar (poin) dengan jumlah tertentu sebagai suatu ide artikel baru untuk kemudian diselesaikan di waktu lainnya. Akhirnya, kemudian menumpuk karena kuantitas ide yang telah dijadikan draft menjadi terlalu banyak. Alhasil, pusing sendiri melihatnya.

Makin banyak draft, makin banyak PR. Dan, kalau imannya gak kuat; akhirnya memilih untuk melambaikan tangan ke kamera.

2. Terlalu sering kompromi (ngerjainnya besok aja, ah)

Yang kedua ini adalah dari diri saya sendiri dan juga menjadi salah satu penyebab adanya beberapa draft artikel di dashboard blog yang belum dihilangkan.

Terlalu banyak membuat alasan yang kemudian berujung pada tidak produktifnya kegiatan blogging. Bahasa ilmiahnya, MALAS. Dan serius, ini benar-benar monster bagi semua bidang kehidupan.

Kalau ditunda hingga besok, itupun tidak ada jaminan akan diselesaikan. Akhirnya hari esok menjadi lusa dan kemudian menjadi minggu depan. Begitu seterusnya hingga tidak terasa bahwa ternyata tidak akan lama lagi Bupati atau Walikota tempat Anda tinggal akan memasuki masa Pilkada kembali.

3. Mengelola lebih dari satu blog SENDIRIAN

Gak hanya di dunia nyata, di dunia maya pun banyak blogger yang tidak memiliki pasangan meskipun pacarnya ada. Nah loh. Yah jelas saja, ngeblognya sendirian tok. Gak ada rekan sama sekali. Jomblo pangkat dua (kuadrat).

Tidak heran, kalau di salah satu blognya jarang update semenatara sudah terpasang manja iklan dari berbagai jaringan periklanan. Bisa jadi yang bersangkutan sedang “kencan” dengan blog yang lainnya.

Yang saya perhatikan, kalau mau punya rekan untuk menyembunyikan kesendiriannya, berarti dananya mencukupi. Setidaknya untuk membeli artikel yang dilakukan secara online. Jika mampu mempekerjakan content writer, lebih hebat lagi. Jika mau yang gratisan, yah perbanyak jaringan. (Mungkin) dengan iming-iming berkembang bersama mulai dari nol. Nah, yang begini juga yang saya salut. Angkat topi lah kalau bisa terwujud.

Dan, banyak juga yang menyediakan layanan bagi penulis tamu. Maka melimpah ruahlah artikelnya.

4. Tidak memiliki target pencapaian

Mau sejauh mana ngeblognya? Ini pertanyaan yang masih sering saya tanyakan ke diri saya sendiri. Kalau dapat penghasilan, buat apa? Dan, sederet pertanyaan lainnya.

Tidak bisa saya pungkiri bahwa memiliki banyak pembaca untuk setiap artikel yang sudah dipublikasikan itu sangat membahagiakan. Apalagi kalau dalam setiap tulisannya kita, bisa menghadirkan manfaat bagi pembaca.

Bawaannya senang banget lihat Google Analytics untuk mengetahui jumlah pengunjung blog.

Entah itu sekedar jumlah trafik ataupun menargetkan sejumlah penghasilan dan seterusnya. Baiknya direncanakan dengan baik setiap tujuan yang hendak dicapai. Hal ini juga akan sangat membantu dalam hal kedisiplinan. Saya sih, masih jauh kalau bicara mengenai monetisasi. Tapi setidaknya sudah ada indikasi ke arah yang lebih positif. Mudah-mudahan tetap seperti itu.

5. Terlalu menuntut untuk sempurna

Cie elahh. Ini apalagi. Entah bagaimana dengan Anda. Namun pada banyak kesempatan, saya terkadang tanpa sadar tidak mampu membedakan antara artikel yang pembahasannya LENGKAP dengan yang saya anggap SEMPURNA ketika mulai membuat suatu postingan.

Padahal dalam satu tulisan, kalaupun ada; sudah jelas bahwa yang komplit itu yang akan menang. Itupun masih harus didukung dengan artikel sebelumnya atau tambahan lainnya. Karena itu ada yang kita kenal sebagai link internal dan eksternal. Sama-sama saling mendukung antar artikel.

Diakhir waktu, artikel yang akan dianggap sebagai konten yang lengkap atau yang sempurna tersebut hanya ada satu indikatornya. Yaitu yang mampu kita PUBLIKASIKAN.

Mengenai banyak sedikitnya, saya kira relatif.

Mau yang gaya bahasanya menembus langit pun, gak akan ada pengaruhnya kalau didiamkan sebagai draft.

Demikian curhat saya. Karena ini cuma curhat, barangkali bisa mewakili yang lain. Atau Anda mungkin memiliki unek-unek yang lainnya?

Berkomentarlah menggunakan bahasa yang Anda sendiri takjub untuk membacanya!
EmoticonEmoticon