Tes AcEPT dan PAPs UGM, Pengalaman Saya Mengikuti Kedua Ujian Tersebut

Tes AcEPT dan PAPs di UGM ini saya laksanakan pada tanggal 20 dan 21 Desember 2017 yang lalu. Tujuan utamanya sebenarnya ingin nyoba-nyoba saja. Susah gak sih ngejawab soal-soalnya seperti SBMPTN.

Kalau lulus, Alhamdulillah. Gak juga, yah saya bisa apa. Berarti harus belajar lagi.

Hasil dari kedua ujian tersebut adalah, PAPs gak lulus sedangkan AcEPT malah berhasil. Jadi, satu sisi menangis. Sisanya kegirangan. Tapi, lagi-lagi karena ini cuman nyoba tok, so i am just fine.

Yang jelas, saya kok ngerasanya lebih sulit tes masuk untuk S1 daripada S2. Mengingat sertifikat hasil tes keduanya bisa digunakan untuk melanjutkan pendidikan di UGM.

Score tes PAPs yang saya peroleh adalah 441. Kurang 9 lagi karena minimal untuk bisa lolos adalah 450. Tapi, ini lumayan. Karena cuman sekali belajar saja dari malam sebelum ujiannya diadakan. Sebelumnya gak belajar sama sekali. Banyak membaca apalagi beli buku untuk persiapan tidak saya lakukan.

Jika Anda sudah mempersiapkan diri, tentunya peluang kelulusannya akan lebih besar lagi. Tetap optimis!

Lain halnya dengan AcEPT. LOLOS! Dengan score minimal 400 dan saya bersyukur bisa sedikit diatasnya. Kalau Bahasa Inggris, ini benar-benar gak ada persiapan sama sekali. Ngerti sih iya, cuman ya gak banyak. Jadi, mungkin saya sedang beruntung?.

Awalnya, saya sendiri mengira kalau saya tidak berhasil meraih poin minimal di AcEPT ini. Saat pengumuman onlinenya sudah keluar, saya melihat bahwa nilai saya cuman 219 saja. Berarti cuman setengah lebih sedikit dari skor terendah yaitu 400. Wah, musti belajar ternyata. Pikirnya saya begitu.

Setelah di kontrakan, saya menghubungi sepupu bahwa saya juga tidak berhasil di tes kedua ini. Ia kemudian menanyakan skor saya dan memberitahunya bahwa saya dapatnya cuman segitu.

Eh, dia malah nyengir dan bilang selamat kalau saya sudah fix lolos untuk ujian AcEPTnya.

Karena ternyata, score tersebut harus dikonversi dulu ke score TOEFL dan angka 400 tersebut adalah minimal score untuk TOEFL bukan AcEPT. Akhirnya, nyari-nyari online bagaimana untuk melakukan konversi nilai yang saya dapatkan.

Cukup kaget juga sih, dengan skor 217 saja ternyata sudah setara dengan 457 skor TOEFL. Lah, saya lebih dikit kan yaitu 219.

Berarti, AMAN!

Berdasarkan pengalaman tersebut, memang akan lebih baik jika mempersiapkan diri sebelumnya. Apalagi saya yang tidak lulus tes PAPs.

Ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk mempersiapkan diri. Hal pertama adalah dengan membeli buku-buku mengenai tes bersangkutan agar paham seperti apa pola soal yang sering keluar. Selain menambah pengetahuan, menjadi terbiasa dengan model soalnya juga sangatlah penting.

Kedua, praktek melingkari jawaban. Hal ini juga penting mengingat tiap soal itu harus dijawab dengan waktu kurang dari 1 menit. Seingat saya begitu karena pertanyaannya yang sejumlah ratusan. 120 kalau gak salah. Dan, pengalaman saya. Susah loh ngelingkari jawaban. Itu saya. Gak tahu kalau yang lain.

Ketiga, lingkari setiap jawaban meskipun Anda tidak tahu jawaban benarnya apa. Alasannya karena jawaban salah yang Anda berikan tidak akan mengurangi nilai dari yang lainnya. Daripada dibiarkan kosong, mending adu peruntungan juga disana. Kali aja benar kan? Saya sendiri untuk PAPs masih ada sekitar 6 atau 10 soal yang tidak saya lingkari jawabannya karena merasa benar-benar tidak tahu. Kalau diisi, lolos kayaknya.

Sepertinya itu saja curhat saya kali ini, jika ada pertanyaan, silahkan sampaikan via komentar. Terima kasih.

Berkomentarlah menggunakan bahasa yang Anda sendiri takjub untuk membacanya!
EmoticonEmoticon