Jasa Bakar Ikan di Bali

Jasa Bakar Ikan. Siapa yang bisa menyangka bahwa jasa seperti ini benar-benar ada. Bukan apa-apa, takjub saja.

"Kok, bisa kepikiran ya?"


Hanya keheranan bercampur salut yang ada dalam pikiran saya waktu itu.

Dunia ide memanglah misterius. Entah karena memang benar jenius atau karena ada pihak lain yang pertama kali mengusulkan ide tersebut. Yang saya tahu pasti, ini tidaklah main-main. Dan bagi saya pribadi, memanglah ini sangat jenius karena mampu diwujudkan.

Setidaknya ini merupakan salah satu keahlian yang punya nilai jual. Bisnis. Yang tidak pernah terpikirkan dan tidak pernah saya temui sebelumnya dalam kehidupan saya.

Untuk membakar (memanggang) ikan hingga layak makan pun saya kira tidaklah sulit. Bahkan tidak perlulah capek-capek buka YouTube untuk mencari tutorialnya. Apalagi harus punya sertifikat atau study banding segala hingga ke luar negeri. Enggak banget. 

Metode tercepatnya ya, tinggal lempar aja ke bara api sambil dibolak-balik. Tunggu sebentar dan selesai.

Tak tahu lah kalau sekelas restoran bonafit.

Anda juga gak perlu ikut Master Chef hanya untuk diakui sebagai Pemanggang Ikan Terbaik di Indonesia.

Gile aja lu, ndro!

Tidak banyak informasi yang saya dapatkan dari obrolan dadakan yang saya lakukan terhadap ibu penjaga/pemilik warung ini dengan tambahan jasa bakar ikan. Yang mungkin juga sekaligus sebagai pemilik. Saya tidak tahu pasti karena tidak menanyakannya.

Pertanyaan saya cuman satu. And the one and only question is:

"Buk, buka jasa bakar ikannya sudah berapa lama?"

Maksud saya menanyakan ini sederhana saja. Semakin lama, berarti untungnya ada. Sesedikit apapun itu. Yang pasti bisa menopang kehidupan keluarga. Clue selanjutnya adalah, siapa yang mau bertahun-tahun buka jasa, namun tidak menghasilkan apa-apa, atau memilih untuk rugi?

Gak ada kan, yak?!

Si Ibu yang tengah sibuk berpikir sejenak. Mungkin mikirnya; "Ini anak siapa sih, nanya-nanya beginian? Gak lihat apa Princess lagi nyiapin sambel?!"

Kayaknya tidak se-cute ini deh.

"Sepertinya sudah hampir 10 tahunan, Mas"

Begitu jawabannya dengan sangat yakin hingga saya berusaha bertanya kembali mengenai keseriusan jawaban yang ia berikan. Cieee, keseriusan jawaban. Tsaaaaahhh.

Berasa sedang ada asmara terpendam.

Hampir 10 tahun, bro!!!

Tentunya saya begitu saja percaya. Toh, gak ada alasan juga bagi si Ibu untuk berkata tidak jujur pada orang yang baru ditemuinya.

"Mantap kali idenya ini ibu." Gumam saya dalam hati meskipun tidak tahu siapa pemilik ide tersebut.

Tapi sepertinya ibu tersebutlah otak dibalik kesuksesan bisnis hingga bisa selama ini.

Wong, nyebutin hampir 10 tahunnya begitu yakin. Berarti tahu perjalanan bisnis ini dari awal merintis hingga bertemu dengan saya.

Pokoknya, Salut! Salut! Salut!
Hanya itu yang ada di pikiran saya bahkan hingga mempublikasikan artikel ini.

Hal tersebut memberi saya semangat yang begitu besar untuk tetap memandang optimis mengenai rejeki. Dan juga, pekerjaan apapun yang dijalankan dengan serius dan konsisten, pasti akan menemukan bahkan mampu menciptakan pasarnya sendiri.

Selain menyediakan jasa bakar ikan, kami juga dibekali dengan beberapa bungkusan plastik kecil sambal bawang untuk dibawa pulang. Karena selain layanannya tersebut, memang disediakan pula "teman makan" ikan dari biaya yang telah kami keluarkan.

Dan ngomong-ngomong mengenai biaya ini, dari cumi dan ikan yang kami beri (sekitar 1 setengah kilo), kami wajib membayar 35 ribu.

Wow-lah pokoknya.

Betapa tidak? Biaya untuk beli ikan dengan jumlah kilo tersebut sekitar 60 ribu. 55% biaya bakar ikan dari harga ikannya sendiri.

Saya awalnya berpikir, ini memang kemahalan. Ikannya cuman diolesi minyak dicampur bawang putih dan mungkin juga rempah lainnya. Dan biaya lainnya yang dikeluarkan juga oleh pemilik jasa adalah untuk sambal dan juga arang.

Sepertinya memang sangat gede untungnya, bos.

Tapi saya bisa apa, toh yang bayar juga teman saya. Hahahaha.

Menariknya lagi, lokasinya yang berada tepat disebelah pasar ikan. Nama pasarnya adalah Pasar Kedongan. Maaaaantaaaaaappp!!!

Sangat strategis.

Waktu untuk membakar ikan tersebut sekitar 30 menitan. Bagi saya yang pengangguran, itu cukuplah singkat.

1 alasan utama kenapa teman saya menggunakan jasa ini adalah karena memang tidak memungkinkan melakukannya di rumah. Pertama, lahan kontrakannya sangatlah sempit. Cuman bagian depan rumah saja disamping teras kalau mau bakar ikan. Kedua, saya akan sangat yakin bahwa asapnya akan mengganggu tetangga sebelah, sebelah, dan sebelahnya lagi karena rata-rata rumah yang ada di tempat tinggalnya terlalu berdekatan. Bahkan dindingnya tak berjarak. Seolah rindu jika dipisahkan meskipun beberapa centi saja.

Dan yang terakhir adalah, sepertinya memang belum membeli wajan/panci khusus atau apalah istilahnya. Itu loh yang khusus buat bakar ikan.

Jadi daripada repot dan juga mengganggu tetangga, kehadiran jasa ini tentu sangat membantu sekali. Terlebih, sungguh kaya teman saya ini. Hallllaahhh. Jadi itung-itung bagi rejeki ke lainnya.

Di tempat asal saya, Wakatobi. Tepatnya di Pulau Tomia yang tempat tinggal kami tidak berjarak dari garis pantai. Tidak pernah saya dan teman-teman berpikiran untuk membuka jasa ini. Mentok-mentok ya, ada yang jualan ikan bakar di pasar. Tapi gak ada jasa seperti ini. Entah kurang prospektif atau apa. Mungkin karena kebanyakan kehidupan kami di desa, segala sesuatunya dilakukan sendiri.

Apalagi sekedar untuk bakar ikan. Hampir semua tempat bisa dijadikan lokasi bakar-bakaran. Asal gak di tengah jalan saja.

Yang jelas, salut sangat sama ibu dan keluarganya yang membuka jasa ini. Waktu itu, terlihat juga ada 3 orang yang dipekerjakan. Mungkin sekalian untuk membantu aktivitas warung makannya.

Tertarik menggunakan jasa bakar ikan ini? Silahkan bawa atau sekalian beli ikan di Pasar Kedonganan yang lokasinya bisa sekalian liburan sejenak di pinggir pantai.

Berkomentarlah menggunakan bahasa yang Anda sendiri takjub untuk membacanya!
EmoticonEmoticon