Kemampuan Komunikasi yang Efektif Ternyata Akan Sangat Membantu Bagi Pekerja Baru

Saya termasuk jenis manusia yang dulunya tidak pernah memimpikan dan menargetkan untuk bekerja di salah satu perusahaan swasta seperti saat ini. Mikirnya cuma bisnis alias jualan di kios meskipun memiliki ijazah perguruan tinggi dan memang rencananya ingin berkembang disana.

Kenyataan berkata lain hingga apa yang tidak pernah saya rencanakan justru malah terwujud.

Intinya, saya akhirnya mencari pekerjaan sesuai dengan minat dan dibekali sedikit kemampuan dalam bidang tersebut. Dan bidang pekerjaannya pun jauh berbeda dengan apa yang saya pelajari sebelumnya saat mengenyam dunia kuliah.

Bersyukur, iya. Karena itu saya menuliskan pengalaman ini, berharap mungkin yang lain pun bisa mengambil manfaat dari apa yang akan saya sampaikan jika memang ada.

Berhubungan dengan ilmu komunikasi, saya pernah membaca bahwa bahasa merupakan salah satu produk kebudayaan tertua di dunia. Baik komunikasi yang dijalin antar-sesama manusia, lingkungan maupun Tuhan.

Ada benarnya, terlebih berkaitan dengan cara kita bertahan hidup. Tanpa komunikasi yang baik, maka pesan yang hendak kita sampaikan ke pihak lain bisa jadi tidak akan dipahami.

Dan saya juga termasuk jenis makhluk yang jujur saja belum mampu menjalin komunikasi yang efektif terhadap orang lain. Apalagi dalam lingkungan kerja.

Sebagai pekerja baru yang usia masuk kerjanya baru memasuki 5 harian saat tulisan ini dipublikasikan, terus terang atmosfir yang saya rasakan masih sangat kaku. Bukan karena pihak lain, namun kemampuan saya dalam beradaptasi menggunakan komunikasi belumlah mumpuni.

Pada beberapa kesempatan tatkala menemui jalan buntu saat sedang bekerja, saya mulai menengok ke kiri-kanan dan juga arah depan untuk memperhatikan rekan lainnya. Sesekali membuka sedikit percakapan yang hanya berlangsung tidak sampai semenit untuk sekedar menyamankan diri atas kondisi kebuntuan yang saya temui. Namun, justru berujung pada perasaan lain yaitu merasa aneh dengan suasana yang tercipta atas dasar chit-chat beberapa detik tersebut. Awkward banget.

Rekan baru lainnya yang saya perhatikan, sepertinya juga merasakan hal yang sama, meskipun saya juga berharap hal tersebut adalah kekeliruan atas hasil obserbasi dadakan ini.

Dari sini saya menganggap bahwa mungkin memang butuh waktu, terutama saling mengenal satu sama lain. Tapi tidak sekedar tahu nama, asal, dan juga tinggalnya dimana. Lebih dari itu. Jika perlu, sedekat teman curhat untuk saling mendalami satu sama lain. Karena bagaimanapun juga, kami bekerja sebagai satu tim.

Dan untuk membangun tim yang solid, saya berkeyakinan bahwa komunikasi merupakan salah satu caranya.

Tentu saya tetap akan belajar. Bagaimana mendekati rekan kerja lain tanpa mengganggu pekerjaannya. Belum lagi, waktu istirahat hanya sejam pada siang hari. Itupun tidak selamanya bersama-sama dalam masa rehat tersebut. Jadi harus memikirkan cara yang lebih efektif lagi.

Pengalaman pertama saya yang terus terngiang dalan pikiran justru bukan bagaimana melakukan pekerjaan itu sendiri, namun memecah atmosfir yang kaku tersebut dengan harapan mampu membentuk tim yang saling mendukung. Ketika salah satu memiliki kekurangan dan kebuntuan, anggota lainnya mampu tetap memotivasi dalam berbagai cara yang masuk akal.

Komentar

Postingan populer dari blog ini