Pengalaman Daftar Kartu Jenius Bank BTPN di Bali

Urusan buka-tutup rekening ini sepertinya sudah jadi kebiasaan yang tidak seharusnya ada pada diri saya. Semenjak kuliah hingga sekarang, entah sudah berapa rekening yang tidak kepake sama sekali. Baik karena hilang ataupun expired (kadaluarsa). Boro-boro isi rekeningnya "gendut," pihak bank kalau menelususri jumlah saldo dan transaksi, kemungkinan mikirnya "ini anak kok gak ada peninkatanya sama sekali selama beberapa tahun ini?!?"

Apalagi kalau Bank BRI, duh malu saya.

Dan beberapa bulan yang lalu, akhirnya buka rekening lagi di Bank yang tidak pernah saya gunakan sebelumnya yaitu BTPN karena tertarik dengan keunggulan Kartu Jenius yang merupakan salah satu produknya.

Pengalaman buka rekening BTPN untuk Kartu Jenius di Bali

Rencananya, pembuatan rekening baru ini ingin saya manfaatkan untuk 2 hal. Pertama, mau memanfaatkan VCC di akun virtual Jenius untuk verifikasi PayPal karena rekening debit BCA saya tidak memungkinkan untuk hal itu. Mau mengajukan kartu kredit juga belum berani meskipun sudah pernah ditawari.

Alasan kedua adalah karena sudah niat mau ngiklan di Google Ads. Sebenarnya bisa saja saya menggunakan rekening BCA yang sudah saya miliki dan memanfaatkan opsi transfer via bank untuk top-up dana di Google Ads. Tapi, rekening tersebut yang awalnya digunakan untuk bisnis, akhirnya saya putuskan sebagai rekening tabungan saja.
"Sadappppppp.... Sok-sokan banget saya misahin rekening tabungan untuk bisnis dan kebutuhan pribadi. Isinya juga paling berapa perak."
Lanjut.

Akhirnya, entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba ngobrol sama teman-teman tentang Kartu Jenius. Sebelumnya, saya sudah pernah membaca bahwa pendaftaran kartu Jenius ini bisa dilakukan secara online dan kartunya akan dikirimkan dari (entah) Jakarta atau seputaran Jabodetabek sana (lupa saya) ke alamat masing-masing meskipun diluar pulau atau buat pengguna di lokasi yang belum terdapat cabang Bank BTPN.

Dan waktu itu, gak jadi-jadi mendaftar.

Hingga akhirnya salah satu teman saya menginformasikan kalau dia sendiri memperoleh rekening di bank BTPN sekaligus kartu ATM-nya dengan mendaftar di Bali. Waktu itu, ada 2 lokasi yang disarankan untuk saya datangi selain kantor bank BTPN.

Pertama adalah di Transtudio Mall Bali yang belum lama ini dibangun dan juga di Mall Bali Galeria. Meskipun kedua lokasi tersebut sama-sama tidak terlalu jauh dari tempat saya tinggal, pilihan saya adalah menuju lokasi yang kedua yaitu Galeria Mall karena saya belum pernah ke Transtudio dan tidak tahu dimana parkirannya.

Sekitar jam 7 lewat, malam hari, akhirnya berangkatlah saya kesana dengan tujuan untuk membuka rekening baru di bank BTPN ini. Dan jujur saja, entah kenapa batin saya cukup senang mikirin kalau bentar lagi bakalan punya Kartu Jenius. Padahal duit, duit sendiri. Isinya juga paling gak seberapa. Itupun akan digunakan untuk ngiklan.

Tapi lantaran memang saya senang, saya nikmati saja perjalanan tersebut sambil menghayal tingkat tinggi.

Hingga sampailah saya di parkiran dan setelah mencari lokasi stan staff-nya, eh, tidak lama langsung ketemu dan saya pun disapa dengan panggilan khas yang membuat bulu kuduk berdiri: "Selamat malam, kaka. Ada yang bisa saya bantu?"

Suka bingung aing sama panggilan "kakak-kakakan" ini sampai saya sendiri langsung nanya kenapa harus manggilnya gitu. Soalnya, ibu-ibu sebelah saya bersama anaknya sekitar umur SMP atau SMA juga dipanggil kakak. Memang banyak sih yang make panggilan ini, apalagi di mall atau toko. Hanya belum pernah nanya saja.

Eh ternyata, waktu pegawai di training katanya memang harus manggil kayak gitu kata mbak-mbak yang membantu saya mendaftarkan rekening baru ini.

Proses registrasi hingga selesai pembuatan Kartu Jenius saya waktu itu sekitar setengah jam lebih. Agak lama karena waktu itu kuota internet hp saya sudah habis total. Hal tersebut sudah saya ketahui sebelumnya, namun, bodoh amatlah, pasti pihak bank ada solusi buat ini. Soalnya, sampai buat stan di mall-mall kaya begini berarti lagi ekspansi atau ingin memperbanyak pelanggan baru.

Gak mungkin kan saya diberitahu untuk gak usah mendaftar dulu karena belum ada kuota? Karena disisi lain, mereka pasti senang juga ada pengguna baru yang datang langsung seperti yang saya lakukan.

Benar saja, mbaknya daftarin saya menggunakan tabletnya yang sudah pasti kuota internetnya banyak melintir karena mungkin difasilitasi oleh bank. Lalu kemudian bolak-balik verifikasi di hp saya.

Oh ya, syarat pendaftarannya itu ada 3; bawa KTP asli, hp untuk install aplikasi Jenius, dan tentu saja nomor hp itu sendiri.

Untuk KTP, waktu itu harus dipegang dekat muka sendiri lalu di foto sama mbak-mbaknya untuk keperluan verifikasi. Alhasil, saya di foto sekitar 2 atau 3 kali, sampai saya sendiri ke-geer-an; "Setampan itukah saya, mbak?!"

Dan berhasil. Kartu Jenius yang saya impikan selama ini (ape sih) akhirnya di tangan. Sampai di kos pun malah saya pamerin ke yang lain. Harus ini. Hahahaha.

Dan, besok malamnya kayaknya, langsung masang iklan di Google. Sampai isi saldo Kartu Jenius saya hampir habis semuanya. Mulai dari nol lagi kayak lagi ngisi bahan bakar di pom bensin.

Baca juga: Jasa Bakar Ikan di Bali

Komentar

Postingan populer dari blog ini